MEDIA SOSIAL ADALAH CANDU!

Penggunaan internet tidak boleh disepelekan dampaknya. Sebab, pola kebaruan dalam revolusi 4.0 yang didengungkan sejak tahun 2014 pun menggunakan logika integratif dari peran internet yang saling terkoneksi terhadap suatu objek satu dengan objek lainnya.

Di lain sisi, penggunaan internet pada sektor pendapatan finansial (aktifitas produktif) justru sangat kecil sekali. Hal tersebut ditunjukkan oleh data statistik telekomunikasi yang telah dirilis oleh BPS pada tahun 2015 yang menunjukkan bahwa penduduk Indonesia yang menggunakan internet dengan tujuan finansial hanya 8.38 persen, sementara penggunaan internet untuk media sosial mencapai angka 82.05 persen. Tak heran jika era Post-truth disematkan seiring besarnya focus perhatian pada penggunaan media masa.

Pada titik ini Nurudin menilai bahwa media sosial perlahan berubah menjadi system of beliefs, khususnya generasi melinial. Kesempurnaan informasi terpadu rapi dengan kecepatan pesebarannya menjadikan media sosial sebagai alasan untuk mendapatkan kepercayaan baru terhadap suatu informasi apapun. Sementara perangkat logis untuk menyaring derasnya informasi masih diragukan.

Buku karya Nurudin berisi enam bagian yang dimulai dengan pembahasan mengenai Hoaks yang berkembang di masyarakat. Pada bagian kedua penulis menjelaskan hal apa saja yang berkaitan dengan perubahan teknologi dan rekayasa sosial. Pada bagian ketiga penulis memberikan pemahaman tentang pentingnya literasi media untuk mewujudkan masyarakat “melek” media. sementara pada bagian keempat mengulas tentang peran dan tantangan media sosial terhadap keterhubungan yang signifikan dengan geliat politik praktis. Pada bagian kelima buku ini mendedah ikhwal kunci dari pada komunikasi dalam bermedia sosial. Pada bagian akhir buku ini ditutup dengan ulasan ikhwal pesan yang disampaikan dalam media masa yang mampu menjadi penghantar untuk dijadikan alat provokasi-komodifikasi.

Sebagai akademisi ilmu komunikasi dan penulis yang namanya cukup dikenal di dunia tulis menulis. Beliau dianggap mampu dan representatif melukiskan fenomena pergeseran habitus kepercayaan terhadap informasi yang tumbuh di tubuh generasi milenial. 

Membendung Hoaks di Generasi Milenial

Nurudin membuka buah pikirnya dengan dua quoteWe cannot not communicate”, dan “The biggest communication problem is we do not listen to understand. We listen to reply”. Baginya dua quote tersebut bukanlah sekadar ungkapan yang biasa, tetapi penuh makna, di mana masyarakat dunia saat ini berada dalam posisi tidak memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik. Bisa jadi banyak individu yang mengucapkan pesan, tetapi pesan tersebut tidak dimengerti oleh penerima pesan (komunikan) atau bahkan salah sasaran. Akibatnya, pesan yang seharusnya benar bisa diterima salah. Anehnya, pesan yang salah itu buru-buru disebar ke orang lain dan jadilah pesebaran hoaks tersistematik.

Pembahasan dalam tulisan Nurudin dimulai dengan kajian mengenai hoaks dan realitas semu masyarakat yang bersambung dengan perubahan peran fungsi lain dari teknologi serta bagaimana ia mampu bekerja merekayasa sosial masyarakat. Rupanya, penulis membaca sinyalemen dari tingginya angka pengguna media sosial berbanding lurus dengan pesebaran hoaks di tengah-tengahnya. Melihat pesatnya pesebaran hoaks di daring publik pengguna membuat penulis beranggapan jika selama ini pola yang digunakan oleh otoritas berwajib hanya dengan menangkapi para pelaku penyebarnya tanpa mencoba mengurai sebab musabab mengapa hoaks perlu disebar.

Menurutnya, ada dua mekanisme untuk membendung pesebaran hoaks, pertama tersedianya regulasi yang terpantau dan akuntabel untuk membenahi laju pesebaran informasi yang ada dan juga tanpa mengganggu prinsip hak asasi manusia. Kedua, menggalakkan pendidikan literasi di skup terdalam, yakni menumbuhkan literasi keluarga.

Pada bagian kedua buku tersebut penulis mengurai hal apa saja yang berkaitan dengan perubahan teknologi dan rekayasa sosial yang mana ditandai dengan pesebaran pengguna gadget di Indonesia. Hal tersebut juga berimplikasi langsung pada merebaknya penyakit Nomophobia (individu yang menjadi takut jika jauh dari telepon genggamnya).

Hidup dalam kondisi yang bergantung pada gadget memanglah bukan hal yang aneh bagi para pengguna internet aktif, terkhusus bagi kaum milineial yang diasumsikan memiliki kepekaan terdepan terhadap perkembangan fitur terbaru dari teknologi komunikasi massa tersebut. Namun, yang amat disayangkan ialah ketika fenomena kelas nomophobic tersebut menyebar ke penjuru desa dan bersemayam di benak anak perkotaan yang dengan kondisi tersebut memicu suatu gejala sosiopatologis. Sambil mengutip suatu teori terkemuka dalam kajian komunikasi massa yakni cultivation theory (teori penanaman). Penulis menggunakan analisanya untuk mendiagnosa efek domino dari sensasi dunia maya yang digambarkan seolah-olah sama dengan apa yang digambarkan oleh media.

Pengguna gadget dan media sosial berserta seluruh emosinya perlahan ditarik masuk ke dalam sensasi hiruk-pikuk komentar para netizen. Media sosial dan komentar para netizen secara langsung memberikan efek tekan kepada pengguna lain dalam menentukan pilihan bahkan menentukan sikap, tanpa perlu memberikan ruang pertimbangan pada dasar akal sehat untuk bisa mempertimbangkan antara benar dan salah, baik atau buruk dari apa yang diterimanya, seorang pengguna media sosial seakan kehilangan kepribadian dirinya. Pribadi ke-aku-an perlahan tercerabut dan kemudian digantikan dengan pribadi lain yang sebagaimana netizen ujarkan. Sehingga jadilah suatu kondisi masyarakat media sosial yang lebih memilih berkomentar. Komentar perlahan menjadi budaya.

Untuk keluar dari kondisi nomophobia dan menangkal merebaknya sosiopat di tengah masyarakat, setidaknya hal yang paling mendasar yang harus dibangun ialah pendalaman mengenai literasi media. literasi media berarti medekatkan hakikat positif media pada masyarakat dan bukan sebaliknya, yakni menjauhkan diri dari realitas kehidupan sesungguhnya. Mungkin kita sepakat juga dengan mengesampingkan dunia nyata dan mendahulukan maya yang itu memiliki dampak buruk bagi kehidupan. Tapi, bagaimana mungkin kita bisa menolak kehadiran internet dengan segala ragam media sosialnya.

Uniknya bagi generasi milenial, media sosial diposisikan mampu menjadi “sang pendidik masa kini” namun alangkah baiknya, hal tersebut bukanlah berarti merenggut peran dan fungsi “seorang guru” sebagai pendidik sesungguhnya.

Selanjutnya penulis juga mengurai betapa media sosial memiliki daya keterpautan tersendiri terhadap perkembangan perspektif media dengan realitas politik praktis, pandangan media terhadap populisme dan pandangan media terhadap pemilu (pemilihan umum). Dalam konteks politik praktis Media sosial berposisi sebagai alat untuk menyuguhkan ide dan gagasan atau janji politik dan Populisme berposisi sebagai cara untuk mendekati publik. Artinya, dalam kondisi politik praktis pun media sosial akan tetap menjadi alat untuk mendekatkan antara setiap calon dan pemilih.

Bentuk populisme memanfaatkan unsur psikis rakyat. Berdasar pada kepentingan tertentu Media disini diperankan sebagai alat untuk mempublikasi watak populis seorang calon pemimpin. Pemimpin populis mengerti betul bagaimana memanfaatkan media sebagai alat politik. Media berperan untuk mengemas agar bagaimana seorang pemimpin bisa menampilkan sisi popular. Sebagai dampak penampilan tersebut media juga punya tantangan dalam soal bagiamana mengemas pemimpin. Sebab, dari semua hasil kemasan tentunya belum tentu sepenuhnya bagus. Media massa di topang oleh wartawan. Sementara media sosial cenderung memaksimalkan tampilan sosok pengguna kepada publik. Misalnya, siapa yang menyangka disela-sela pertemuan dan makan siang antara presiden Joko Widodo dengan Raja Salman di tahun 2017 lalu presiden Joko Widodo melakukan vlog yang diunggah pada dinding Facebook presiden. Pada point ini, media sosial bisa menjadi pemecah kesakralan pertemuan penting antar kepala Negara.

Pada struktur masyarakat yang sudah sangat demokratis. Media sosial bisa diibaratkan dengan anjing penjaga; di mana ia selalu menghadirkan kewaspadaan pada para penggunanya. Dimensi politik media sosial memiliki peran strategis dan taktis. Pada sisi itulah netralitas media –baik media sosial maupun media massa– sering dipertanyakan.

Isu yang dimunculkan oleh penganut karakter pemimpin populistik cenderung pada isu kesejahteraan sosial –public good-political goods. Orang yang memiliki kapasitas politik cenderung memiliki kepiawaian dalam mengelola isu kesejahteraan di media sosial. Celakanya, banyak partai politik yang termasuk dalam kategori “pemain lama” justru tidak memiliki kualitas kader yang piawai dalam mengelola isu di media sosial. Akhirnya, partai baru yang cenderung diisi oleh generasi milenial-lah yang berpotensi menggunakan media sosial sebagai wadah penyebaran ide gagasan partai politik, Krisis pada tubuh partai politik tersebut juga memiliki kecenderungan membuka ruang terbuka untuk watak populistik di media sosial untuk merebut suara pemilih pemula dan generasi milenial.

Akhirnya, media sosial seolah diimani kebenaran pengaruhnya sebagaimana agama memberikan efek dimensi sosial bagi penganutnya. Hanya saja yang membedakannya ialah ada pada aspek historisitas dan sumbernya. Nilai agama bersumber pada entitas mutlak dan universal yang sejarahnya dijalani oleh para pembawa kabar kebenaran (Nubuwah), sementara media sosial berakar pada konsonan rumus algoritama yang informasi didalamnya dapat dibuat oleh beragam latar belakang jenis manusia serta disebarluaskan dengan berlatar belakang kepentingan yang beragam pula.

*Aktivis Literasi Komunitas Kalimetro Malang, Jawa Timur.

Pages: 1 2