Menyambut Pakem Dunia Penerbitan Baru di Era yang Baru*

Platform perpustakaan publik yang dijalankan pemerintah Spanyol, eBiblio, mengalami peningkatan sebesar 130% sejak Situasi Darurat Negara diumumkan. Lebih dari 18.000 pengguna baru menggunakan fasilitas ini selama tiga minggu. Sedangkan eLiburutegia, sebuah platform buku digital Euskadi, mampu menjaring 6000 pengguna baru.

Bookwire dan Libranda, keduanya melaporkan ada peningkatan 50% minat masyarakat terhadap buku-buku digital. Di sisi lain, Kobo mengatakan ada peningkatan 140% permintaan e-book dan 254%  audiobooks.

Platform berlangganan Nubico juga melaporkan ada peningkatan sign-up tiga kali lipat dari biasanya. Dengan konsumsi konten sebesar 32%. Konsumsi audiobooks Spotify pun meningkat sebesar 17%.

Seperti yang dikatakan oleh Javier Celaya pada edisi editorial Dosdoce:

“Kondisi “terkurung” menyebabkan terjadinya perubahan kebiasaan, di mana ribuan pembaca akan mencari, mendapatkan, membeli, dan mengonsumsi buku lewat layar (on screen)”

Angka-angka di atas memang masih menjadi perdebatan. Karena memang selain nampak konservatif, platform-platform lain yang tak terlacak seperti Amazon, Apple, Scribd, dsb tidak masuk hitungan. Namun yang kita tahu yakni, cara-cara seperti ini direplikasi di seluruh penjuru dunia. Kehadiran buku digital pun jadi hal yang sangat berarti.

Semakin lama krisis pandemi ini berlanjut, semakin lama juga bagi pembaca setia buku cetak untuk bermigrasi ke digital. Bahkan ketika para stakeholders buku cetak seperti penjaja buku terus berjuang agar bisa bertahan hidup. Bisa jadi banyak yang akan tetap menjadi pembaca hybrid (buku cetak dan digital, pen) atau bahkan saja mereka akan beralih ke digital sepenuhnya ke depan.

Yang jelas, belum ada satu pun petunjuk bahwa ke depan akan terjadi era kepunahan buku cetak. Namun ketika ini semua berakhir dan new normal diterapkan, buku digital akan memainkan peran yang lebih besar dalam kehidupan pembaca dan penerbit. Inilah yang tidak pernah terbayangkan ketika dekade ini baru saja dimulai beberapa bulan lalu.

Banyak penerbit yang sudah bertahun-tahun mengambil jarak untuk tidak berperan di dunia digital. Hal itu bukan karena mereka memiliki anggapan irasional terhadap dunia digital. Namun karena mereka takut, jika mereka mengambil jalan dunia digital pula, mereka akan memperkokoh cengkeraman Amazon. Sekarang ini bukan waktunya lagi untuk berpikir betapa remehnya digital di masa depan. Malah sekarang lah waktu yang tepat bagi penerbit untuk “go wide” demi memastikan nilai Amazon bisa diseimbangkan secara bersama dengan cara memperlakukan toko-toko digital secara serius. Penerbit juga harus memikirkan untuk memulai model-model bisnis seperti yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Bisa seperti menyediakan layanan berlangganan secara unlimited untuk memastikan penerbit digital mendapatkan keuntungan lebih dan bisa menyeimbangkan pendapatan.

Karena meskipun jika mayoritas besar penjaja buku bisa survive dari krisis ini dan saat semua pembatasan (lockdown, pen) mulai dicabut pun, dan konsumen bebas untuk membeli apa pun yang mereka inginkan, harus kita pahami bersama bahwa lemahnya perekonomian global ke depan diperkirakan mendorong buku-buku cetakan hadir dengan harga yang lebih fleksibel. Bahkan bisa jadi buku-buku cetakan itu menjadi barang mewah bagi kebanyakan orang di seluruh dunia.

Bagi penulis dan penerbit yang menawarkan harga lebih murah di tengah kondisi digital seperti ini, permintaan konsumen ke depan tetap akan tinggi. Inilah, dunia penerbitan ke depan tidak akan kembali pada keadaan seperti sebelum pandemi.

[*] https://thenewpublishingstandard.com/2020/04/10/publishers-globally-need-to-understand-the-new-normal-now-evolving-and-to-develop-post-pandemic-go-wide-strategies-that-may-at-first-glance-seem-counter-intuitive/. Diterjemahkan oleh Abdul Hafidz Ahmad


Pages: 1 2