Contoh Tulisan Hasil Edit

Bagi masyarakat Indonesia, adanya ancaman terjadinya krisis pangan sebetulnya adalah hal yang ironis. Sebagai negara yang dikenal gemah ripah loh jinawi, rasanya memang agak muskil jika masyarakat kini harus menghadapi ancaman krisis pangan yang cukup serius. Tetapi, inilah realitas yang terjadi. Dibalik berbagai kemajuan dibidang pembangunan ekonomi yang telah berhasil diraih, ternyata ketahanan pangan kita cenderung rapuh, dan bukan tidak mungkin menyebabkan kelangsungan hidup masyarakat, khususnya dari golongan miskin menjadi makin berat dan sulit.

Ancaman krisis pangan adalah ironi bangsa Indonesia. Sebagai negara gemah ripah loh jinawi, terasa aneh jika masyarakat menghadapi ancaman krisis pangan  serius. Tapi, inilah realitanya. Di balik berbagai kemajuan pembangunan ekonomi, ternyata ketahanan pangan Indonesia rapuh. Ini bisa menyebabkan kelangsungan hidup masyarakat, khususnya golongan miskin kian sulit.

Sebagai bangsa agraris, ditengarai Indonesia kini sudah masuk perangkap pangan (food trap) negara maju dan kapitalisme global. Seperti dilaporkan media massa belum lama ini, bahwa tujuh komoditas utama non-beras yang dikonsumsi masyarakat ternyata sangat  tergantung pada impor. Bahkan, empat dari komoditas utama itu, yakni gandum, kedelai, daging ayam ras dan telur ayam ras sudah termasuk kritis.

Sebagai bangsa agraris, Indonesia kini ditengarai masuk perangkap pangan negara maju dan kapitalisme global. Media massa melaporkan, tujuh komoditas utama non-beras yang dikonsumsi masyarakat ternyata sangat  tergantung pada impor. Bahkan, empat komoditas utama, yakni gandum, kedelai, daging ayam ras, dan telur ayam ras sudah masuk pada tahap kritis.

 

Sementara itu, meski belum kritis, jagung, susu dan daging sapi sebetulnya juga patut diwaspadai karena bukan tidak mungkin ikut kritis (Kompas, 1 September 2008). Menurut catatan, saat ini Indonesia ternyata masih menjadi negara yang mengimport berbagai komoditi pangan strategis yaitu : 2 juta ton gula rafinasi/tahun; 1,2 juta ton kedelai/tahun; 1,3 juta ton jagung/tahun; 5 juta ton gandum/tahun; dan 550.000 ekor sapi/tahun; namun untuk beras sejak dua tahun terakhir ini sudah tidak impor lagi.

Jagung, susu, dan daging sapi juga patut diwaspadai karena bukan tidak mungkin ikut kritis (Kompas, 1 September 2008). Saat ini Indonesia masih mengimpor berbagai komoditi pangan strategis, antara lain, 2 juta ton gula rafinasi per tahun, 1,2 juta ton kedelai per tahun, 1,3 juta ton jagung per tahun, 5 juta ton gandum per tahun, dan 550.000 ekor sapi per tahun.

Melihat kondisi pangan secara nasional tersebut, maka posisi pangan Jawa Timur justru menunjukkan surplus untuk beberapa komoditi pangan strategis. Untuk kondisi Tanaman Pangan Jawa Timur, berdasar data dari Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, jumlah produksi padi pada tahun 2008 mencapai 10.474.773 ton Gabah Kering Giling (KGK), setara dengan 6.808.602 ton beras. Jumlah konsumsi beras tahun 2008 mencapai 3.568.182 ton, sehingga terdapat surplus sebesar 3.245.536 ton. Untuk tahun 2009 ditargetkan produksi beras surplus 4 juta ton. Produksi jagung tahun 2008 mencapai 5.053.052 ton, dengan jumlah konsumsi 302.251 ton, sehingga surplus 4.745.115 ton. Namun angka ini belum termasuk bahan baku untuk pakan ternak. Produksi kedelai tahun 2008 mencapai 277.281 ton. Angka ini belum mencukupi kebutuhan konsumsi sebesar 422.151 ton, sehingga masih kekurangan produksi sebesar 144.870 ton. Produksi kacang tanah tahun 2008 mencapai 202.345 ton, dengan jumlah konsumsi 30.154 ton, sehingga surplus sebesar 172.191 ton. Produksi ubi kayu tahun 2008 mencapai 3.533.772 ton, dengan jumlah konsumsi 809.509 ton, sehingga surplus sebesar 2.724.263 ton. Faktor penyebab terjadinya ancaman krisis pangan secara nasional sudah tentu sangat kompleks. Namun, bila ditarik benang merah, hampir bisa dipastikan bahwa pangkal persoalan adalah kurangnya keberpihakan pemerintah terhadap sektor pertanian sehingga pembangunan sektor pertanian dalam beberapa kasus masih kurang optimal, seperti masih lemahnya pengaturan tata niaga, kurangnya ketersediaan sarana/prasarana pertanian, masih rendahnya SDM pertanian, lemahnya akses permodalan, serta lemahnya perlindungan terhadap petani. Belum optimalnya kinerja sektor pertanian itu semakin nyata dengan ditandatanganinya letter of intent antara IMF dengan pemerintah di mana di dalamnya meniadakan proteksi terhadap sektor pertanian.

Berbeda dengan kondisi pangan nasional, Jawa Timur justru surplus beberapa komoditi pangan strategis. Data Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur menunjukkan produksi padi tahun 2008 mencapai 10.474.773 ton Gabah Kering Giling (KGK). Ini setara dengan 6.808.602 ton beras. Konsumsi beras tahun 2008 mencapai 3.568.182 ton. Sehingga terdapat surplus sebesar 3.245.536 ton. Untuk tahun 2009 ditargetkan produksi beras surplus 4 juta ton. Produksi jagung tahun 2008 mencapai 5.053.052 ton sedang jumlah konsumsi 302.251 ton. Artinya, surplus 4.745.115 ton. Namun angka ini belum termasuk bahan baku untuk pakan ternak.

Produksi kacang tanah tahun 2008 mencapai 202.345 ton dengan jumlah konsumsi 30.154 ton. Ada surplus  kacang tanah 172.191 ton. Produksi ubi kayu tahun 2008 mencapai 3.533.772 ton, dengan jumlah konsumsi 809.509 ton. Ubi kayu surplus sebesar 2.724.263 ton.

Faktor penyebab ancaman krisis pangan secara nasional sangat kompleks. Namun, bila ditarik benang merah, pangkal persoalannya kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada sektor pertanian. Pembangunan sektor pertanian dalam beberapa kasus kurang optimal, misalnya tata niaga yang lemah dan sarana-prasarana pertanian yang kurang. Faktor lain adalah sumber daya manusia pertanian, akses modal dan perlindungan terhadap petani yang masih rendah. Kinerja sektor pertanian yang belum optimal itu semakin terlihat dengan penandatanganan letter of intents antara Internasional Monetery Fund dengan pemerintah yang meniadakan proteksi terhadap sektor pertanian.

Core

Berbeda dengan kondisi pangan nasional, Jawa Timur justru surplus beberapa komoditi pangan strategis. Data Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur menunjukkan produksi padi tahun 2008 mencapai 10.474.773 ton Gabah Kering Giling (KGK). Ini setara dengan 6.808.602 ton beras. Konsumsi beras tahun 2008 mencapai 3.568.182 ton. Sehingga terdapat surplus sebesar 3.245.536 ton. Untuk tahun 2009 ditargetkan produksi beras surplus 4 juta ton. Produksi jagung tahun 2008 mencapai 5.053.052 ton sedang jumlah konsumsi 302.251 ton. Artinya, surplus 4.745.115 ton. Namun angka ini belum termasuk bahan baku untuk pakan ternak.

Prinsip
Tidak mudah menyerah
Semangat
Penulis menciptakan sejarah, sementara artis menciptakan berita
Core
Selalu semangat dalam berkarya
Code
Agar tetap dikenang saat kita sudah tiada