Bedah Buku “Kitab Pembebasan”

Pesan Pembebasan dalam Bedah buku Kitab Pembebasan Eko Prasetyo Sekira pukul delapan di Minggu pagi bulan September 2016, gazebo belakang Komunitas Kalimetro sudah sesak dipenuhi anak-anak muda yang datang dari berbagai perguruan tinggi di Malang. Mereka datang bersama kawan sejawat untuk menghadiri bedah buku yang akan diisi oleh Eko Prasetyo, pegiat sosial sekaligus pendiri Social Movement Institue Yogyakarta. Eko Prasetyo memang cukup dikenal luas oleh para mahasiswa, khususnya mereka yang bergelut atau pernah bersinggungan dengan dunia aktivisme. Buku-buku karya Eko Prasetyo memang cukup akrab di telinga mahasiswa. Tulisan-tulisanya yang lugas, kritis, gaya bahasa yang provokatif serta membuka kesadaran pada realitas sosial yang ada adalah sumber ketertarikan dan sekaligus menempatkan buku-buku Eko Prasetyo pada satu kedudukan khusus. Pagi itu, Eko Prasetyo akan membedah bukunya yang baru diterbitkan oleh Intrans Publishing, buku “Kitab Pembebasan: Tafsir Progressif Kisah-kisah dalam Quran.” Buku ini adalah hasil pembacaan Eko atas kisah-kisah yang ada di dalam al-Quran. Disebut progressif karena Eko menceritakan kembali kisah-kisah tersebut dengan bahasa dan istilah-istilah yang lebih sesuai dengan konteks sosial yang ada pada saat ini. Tidak hanya itu, Eko juga melakukan penafsiran-penafsiran yang kontekstual dengan situasi dan permasalahan kehidupan saat ini. Maka tak heran jika membaca buku ini, seperti sedang menyaksikan permasalahan-permasalahan di sekeliling. Kisah-kisah yang dimuat di dalam kitab suci tidak lagi sekadar menjadi bacaan sebelum tidur atau sekadar menjadi cerita suci yang hanya terjadi di masa silam dan oleh orang-orang khusus. Kisah-kisah itu ada di sekeliling kita. Acara bedah buku berlangsung sekitar empat jam. Setelah acara selesai, para peserta tidak langsung pulang. Mereka berlomba mengantri untuk meminta tanda tangan penulis atas buku Kitab Pembebasan, atau sekadar ingin berfoto bersama penulis buku hebat tersebut.

Bedah Buku “Konsep Memperdalam Demokrasi”

Program Studi Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang mengadakan bedah buku “Konsep Memperdalam Demokrasi” yang diterbitkan Intrans Publishing. Acara ini diisi langsung oleh penulisnya, In’amul Mushoffa dari lembaga riset dan kajian, Intrans Institute.

Buku ini menjadi salah satu usaha untuk mencari konsep yang ideal bagi demokrasi di Indonesia, khususnya di tingkat lokal. Bukan sebuah rahasia lagi jika demokrasi kita masih berkutat pada elektoral, belum sampai pada demokrasi substansial. Sehingga menjadi sebuah hal yang lumrah jika kita begitu sering mendengar para wakil rakyat ini ketika menjabat tidak lagi menjadi wakil rakyat yang sebenarnya. Kehadiran mereka tidak lagi merepresentasikan rakyat, justru menjadi aktor yang menyengsarakan rakyat yang telah memilih mereka.

Setiap pemilihan kepala daerah (eksekutif) dan wakil rakyat (legislatif) dilaksanakan dengan konsep demokrasi guna mengakomodir hak setiap warga Negara. Cacatnya demokrasi dalam suatu Negara dapat berakibat fatal bagi pemenuhan hak-hak setiap warga Negara. Jatuh bangunnya demokrasi di Indonesia dalam lintasan sejarah memaksa kita untuk terus berikhtiar mencari konsep demokrasi yang ideal untuk diterapkan.

Acara bedah buku ini terlaksana atas kerja sama antara program studi Administrasi Negara dengan Intrans Publishing. Acara ini dilangsungkan bersamaan juga dengan pelantikan pengurus program studi Administrasi Negara Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang.

Intrans Publishing Fasilitasi Pertemuan Akademisi Lintas Kampus Se Jawa Timur

Intrans Publishing sebagai penerbit yang memiliki komitmen dalam memajukan ilmu pengetahuan di Indonesia memiliki program Pertemuan Akademisi. Program ini dijalankan secara rutin dengan mengundang para akademisi kampus se Jawa Timur. Kali ini Intrans Publishing mengangkat tema “Menyingkap Mafia Peradilan” dengan mengundang Prof. A. Mukhti Fadjar sebagai keynote speaker dan Adnan Topan Husodo, Koordinator Indonesia Corruption Watch sebagai pemantik Diskusi. Diskusi yang diselenggarakan pada tanggal 12 maret 2016 ini dihadiri oleh sekitar 25 peserta yang terdiri dari kalangan akademisi dan jurnalis ini berlangsung cukup hangat. Pemateri membahas mengenai proses peradilan di Indonesia yang kerapkali diwarnai kecurangan oleh oknum-oknum yang menodai asas peradilan. Acapkali ketika masyarakat harus berhadapan dengan proses peradilan, sudah sejak mendatangi kantor pengadilan terdapat oknum-oknum yang meminta sejumlah bayaran dengan iming-iming memudahkan proses peradilan. Kecurangan demi kecurangan ini yang dikritisi dalam diskusi yang berlangsung selama 2 jam tersebut. Peserta berkeluh kesah tentang pengalaman mereka masing-masing ketika bertemu dengan mafia dalam peradilan. Beberapa pihak menyangsikan fungsi aparatus Negara guna mengawasi dan mencegah munculnya mafia peradilan ini. Juga diharapkan adanya sanksi yang tegas dalam penegakan hukum memberantas para mafia peradilan.